Berhenti atau Terus Berlari? Apapun itu, Butuh Seorang Pemberani
>> Jumat, 18 Juni 2010
"Mungkin, ada kalanya manusia mengakui bahwa jalan yang dipilihnya harus berhenti di titik tertentu. Tapi, sampai detik ini, saya tidak pernah berhenti, entah karena saya belum sampai di titik itu atau karena saya sudah melewatinya dengan terus maju berjalan". Kalimat itu saya tulis di status Facebook saya dan juga di twitter saya. Saya menulis itu bukan tanpa alasan tentu saja. Semua yang saya pikirkan selalu mempunyai alasan. Saya hanya sedang berada di sini, memikirkan segala hal. Ya, saya memikirkan segala hal. Hampir selalu seperti itu. Mungkin naif mengira saya mampu memikirkan segala hal, tapi itu yang terjadi, saya memikirkan semua hal yang terjadi kepada saya dan bahkan yang tidak terjadi kepada saya. Saya bukan pemikir yang brilliant seperti para filsuf atau yang lain. Saya hanya tidak bisa TIDAK memikirkannya. Hal itu berefek pada baik turunnya mood saya hampir di setiap waktu.
Oh iya, kali ini yang menohok saya adalah bahwa saya sedang memelankan kecepatan berlari saya. Semua sedang mendahului saya, tapi saya tidak peduli. Saya hanya mulai merasa ada yang salah dengan tujuan saya. Okay, mungkin tidak salah, hanya tidak beres. Tujuan saya berlari menjadi samar dan terkadang seakan menyuruh saya berhenti atau berbalik arah. Saya bingung. Bayangkan saja, saat anda sedang berlari kencang dengan jalur yang lurus, tiba-tiba anda di suruh berhenti dan berbalik arah. Anda seketika seperti kehilangan arah tujuan. Kebingungan harus melanggar perintah sengan tetap berlari atau berbalik arah tanpa tahu harus kemana.
Ya, ini absurd. Seperti biasa, yang saya katakan sangat absurd. Saya tidak bisa menceritakan secara gamblang di sini. Saya hanya ingin sedikit melegakan hati. Apalagi saya tidak yakin yang bersangkutan akan membaca tulisan-tulisan saya. Itu berarti saya AMAN. LOL.
Di balik itu semua, sesungguhnya saya berusaha menyiapkan diri untuk segala kemungkinan terburuk, yaitu tiba-tiba harus menemui titik dimana saya memang harus berhenti alih-alih telah melewatinya. Saya memasrahkan hal ini kepada Tuhan. Allah, saya yakin Engkau akan memberikan yang terbaik bagi hamba-Mu. Apapun itu, semoga Allah memberik saya kebesaran hati. melapangkan jalan, dan keikhlasan yang luar biasa saya butuhkan.
Bila saatnya berhenti, saya tidak perlu menyatakan diri menyerah. Saya tidak kalah, saya tidak menyerah. Justru saya menemukan bentuk kemenangan lain yang juga sama luar biasanya dengan tidak berhenti berlari. Yaitu berani untuk berhenti dan menerimanya dengan lapang hati.


0 komentar:
Posting Komentar