>> Jumat, 30 Januari 2009


Senangnya bila ada orang lain memberi kita kepercayaan. Senang yang dirasakan juga bebarengan dengan rasa tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan itu. Namun, saat seseorang sudah mencium gelagat adanya pengkhianatan **ceilah katanya**, dan dia berkata seperti itu kepada orang yang tertuduh, orang yang tertuduh itu mungkin akan merasakan bukan rasa senang melainkan merasa tertohok jika **saya bilang jika lho ya** si tertuduh memang sudah berkhianat. Aduh, saya sebenarnya tidak suka dengan kata-kata 'khianat' dan kata turunannya. Hhmmm…setelah ini saya akan menyebutnya dengan ******* saja ya. **ingat *nya ada 7 lho, kalo bukan 7 berarti bukan itu..hahahahaha..enggak dink;p**

Saya pernah membaca sebuah kalimat, gini nih 'I Trust You' is a better compliment than 'I Love You' because you may not always trust the person you love but you can always love the person you trust. Hmm..gimana menurut teman-teman? Kalimat itu menggambarkan seberapa ampuhnya kata-kata 'saya percaya kepadamu'.

Kepercayaan itu kan sebuah amanah. Dan sekali orang tidak memegang amanah itu dengan baik, orang itu akan sulit untuk dipercaya orang lain lagi. Hal ini berlaku universal.

Bila seseorang ber*******, seseorang yang memberikan kepercayaan akan merasa kecewa luar biasa. Apalagi jika orang yang memberi kepercayaan itu adalah orang yang tidak mudah percaya pada orang lain, bisa trauma lho **hee…ngomong2 kelebay-an saya sepertinya menurun dari orangtuanya saya sepertinya,,hwakakakaka**. Jadi, teman-teman, ayo kita bersama-sama berjuang menjaga kepercayaan yang diberikan kepada kita ya, selalu ingat dan bayangkan jika kita menjadi orang yang di******* pasti kan tidak enak. Chayo!!

Read more...

menerima kehilangan

>> Senin, 26 Januari 2009

Sepertinya saya harus bersiap menghadapi kehilangan dan menerimanya dengan pantas. Lho? Kenapa tiba-tiba saya berpikir seperti itu ya? Saya sendiri juga heran. Tapi tampaknya itu semua karena apa yang saya alami dari tadi malam hingga detik ini. Saya merasa kecewa saat mengetahui sesuatu yang mengejutkan ini. Yah, bayangkan saja bila anda merasa mengenal betul seseorang selama waktu bertahun-tahun, tapi ternyata anda dikejutkan dengan sikapnya yang sama sekali tidak anda kenal. Seperti tertipu selama bertahun-tahun. Kira-kira seperti itu lah rasanya..dan kenapa saya merasa perlu bersiap untuk kehilangan? Karena saya merasa cepat atau lambat mungkin saja hal terburuk akan terjadi, yaitu benar-benar kehilangan orang yang semula saya kira saya sangat mengenalnya.

Hal ini sangat amat berat. Huh..saya berle lagi ya. Tapi memang saking sangatnya jadinya ya begitu.

Jujur, saat ini saya merasa tidak sanggup bila saya benar-benar harus kehilangan. Tapi, sedia payung sebelum hujan lah. Saya harus bersiap dari sekarang, biar bisa mulai menata hati agar saya akhirnya sanggup. Tapi kalau boleh memilih, saya mah jelas memilih tidak akan mengalami rasa kehilangan itu.

Bagaimana ya cara terbaik untuk menerima sebuah kehilangan dengan pantas? Mengapa saya menggunakan kata pantas? Karena saya rasa, kehilangan itu harus direspon dengan cara yang sesuai. Kalau kita kehilangan uang 100 perak tentu respon kita akan berbeda kan dibanding bila kita kehilangan uang seratusribu. Jadi, bisa juga pantas yang saya tulis tadi berarti sesuai dan pas alias tidak berlebihan. Eh, malah jadi membahas kata 'pantas'..hahahaha..saya maksudnya maubertanya serius. Apa yang sebaiknya kita lakukan untuk dapat menerima sebuah kehilangan dengan pantas? Saya masih belum menemukan jawabannya..

Ngomong-ngomong, jadi ingat lagunya Letto, judulnya memiliki kehilangan. Coba deh denger. Saya suka lagunya..hehehehe..

Teman-teman yang sedang merasa kehilangan atau menghadapi kehilangan, boleh lho berbagi dengan saya. Dengan senang hati malah=)

Read more...

speak up your mind dear..

>> Minggu, 25 Januari 2009


Lama tidak menulis membuat saya kangen dan ingin menyampaikan apa yang ada di pikiran saya akhir-akhir ini. Ada orang yang lebih suka menahan emosi daripada mengungkapkannya. Hal ini bisa berakibat buruk bila terus menerus dilakukan. Maksud saya, saat anda terus menerus menahan emosi anda dan menyimpannya sendiri, suatu saat, saat suasana hati anda sedang benar-benar buruk, emosi yang telah anda simpan dan tahan selama ini bisa meledak seketika. Hal ini bisa berakibat sangat fatal. Bukannya memperbaiki keadaan, hal ini akan memperkeruh suasana.

Mungkin saat anda memutuskan untuk menahan emosi, anda berharap dalam hati kecil agar orang yang telah membuat anda merasakan suatu perasaan yang negatif, akan menyadari apa yang anda lakukan dan rasakan dan berbuat sesuatu untuk memperbaiki keadaan. Tapi sebenarnya, harapan itu hanya akan membuat anda bertambah kesal karena tidak terpenuhi. Jangan pernah menganggap orang lain akan selalu mengetahui jalan pikir anda, maksud dari tindakan anda dan apa yang anda rasakan. Bila anda bersikap seolah semua baik-baik saja, maka orang lain akan menganggap bahwa memang semuanya baik-baik saja, tidak ada masalah dan tidak ada yang perlu dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Apa anda mengerti maksud saya?

Ya, yang harus kita lakukan adalah mengkomunikasikannya dengan baik dan tidak terburu-buru saat itu juga. Jangan mengungkapkannya dengan meledak-ledak. Alih-alih ingin membuat orang lain mengerti, anda hanya akan membuat orang lain emosi juga. Jangan tahan emosi anda terus menerus, tapi sampaikan dengan lembut dan baik bahwa ada yang tidak berkenan di hati anda. Jangan sungkan, malas dan takut hal itu akan menimbulkan masalah, karena hal itu justru bisa membuat anda menemukan solusinya. Bila anda menahan terus emosi anda hingga suatu saat meledak, hal itu akan sangat sulit untuk diselesaikan, karena bisa dibilang sebenarnya itu masalah yang sudah basi, yang sudah mengapal.

Mencoba untuk mengungkapkan secara jujur tapi dengan cara yang baik ke orang lain akan membuat pikiran anda lebih enteng dan mencegah terbentuknya masalah yang lebih besar.

Read more...

I wanna go home

>> Senin, 15 Desember 2008


Pernah berpikir tentang going home? Home. Menurut saya home adalah tempat dimana saya merasa nyaman, merasa bebas melakukan dan menjadi apa yang saya inginkan dan tempat dimana saya bisa dan boleh menjadi diri saya sendiri. Apakah rumah **dalam arti yang sebenarnya** selalu menjadi home bagi Anda?

Ada yang bilang bahwa mereka feel like in home ketika bersama dengan orang yang mereka kasihi, sayangi atau cintai. Hmm..mungkin mereka merasa seperti itu karena mereka merasa nyaman ya bila bersama dengan orang tersebut. Mungkin juga karena mereka bisa menjadi diri mereka sendiri. Tapi untuk kemungkinan alasan yang saya sebutkan sebelum ini, ada juga yang malah sebaliknya. Ada yang malah sama sekali tidak bisa menjadi diri mereka sendiri **entah karena jaim, gengsi, atau hal lain**. Mungkin tentang menjadi atau tidak menjadi diri sendiri saat bersama orang yang kita kasihi, sayangi atau cintai bisa kita bahas lain kali **mungkin;)*

Kemarin, saya sedang berada dalam kondisi badmood. Saat itu saya sedang berada di rumah, tapi saya berkata pada diri saya 'I wanna go home'. Lho? Bukannya saya sudah di rumah? Yup, tepat. Saya memang sudah di rumah, tapi sedang tidak merasa nyaman untuk berada di rumah karena sesuatu hal. Yang saya lakukan pertama kali adalah memutar otak untuk mencari tempat dimana saya bisa merasa nyaman untuk saat itu. Bukannya melarikan diri, tapi saya benar-benar ingin sendiri dan menulis apa yang saya pikirkan dengan tenang dan nyaman. Tenang yang saya maksudkan bukan berarti hening tanpa suara **itu malah akan membuat saya deg-degan antara takut dan cemas dan berpikir macam-macam yang menyeramkan..hahaha>.<**. Akhirnya saya menemukan tempat yang mungkin akan membuat Anda tertawa karena ini bukan tempat yang tampak sempurna..hahaha…tempat itu adalah MURNI, warung mie dan burjo di dekat SMA saya, SMA N 1 Yogyakarta **tolong jangan bilang saya aneh >.<**. Tempat itu adalah tempat yang lumayan sering saya kunjungi walaupun saya sudah lulus SMA **slurp…jadi ingat menu favorit saya, indomie goreng pake telor mateng ditambah kecap+merica yang banyak ditambah bakwan/tempe yang digoreng kering ditambah emping/alen-alen(tergantung mana yang ada) ditambah jus alpukat tercinta..yummy>.< wakz..banyak juga ya ternyata..hahaahaha**.

Nah, itu adalah tempat dimana I feel like in home, secure, comfortable, imperturbable **and full up, of course xp** untuk saat itu. Dimanakah tempat-tempat dimana Anda merasa sedang di rumah?? Sepertinya akan banyak jawaban tak terduga..ho..salam kasih untuk Anda semua^^

Read more...

Imperfect Life is The Perfect One

>> Sabtu, 13 Desember 2008


He, judul postingan saya kali ini memang rada kontroversial. Tapi saya punya pendapat sendri tentang pernyataan itu. Hidup itu mungkin memang tidak ada yang sempurna, tapi ada yang nyaris sempurna. Sebenarnya ukuran sempurna itu relatif sekali. Tiap orang mungkin punya tolak ukur sendiri tentang definisi sempurna.

Dulu, di saat saya terluka atau sedih atau ,marah atau merasakan apapun yang negatif, saya sering bertanya-tanya **mungkin lebih tepatnya 'menyalahkan'** mengapa saya harus merasakan rasa seperti itu? Mengapa rasa yang negatif itu harus ada? Dan akhirnya saya menemukan jawabannya. Sudah agak lama sebenarnya saya menemukan jawabannya, hanya saja tiba-tiba saya ingat dan ingin berbagi.

Tidak akan ada rasa kebahagiaan bila tidak ada kesedihan

Tidak akan ada terang bila tidak ad gelap

Jadi teringat liriknya lagu Berhenti Berharap dari Sheila On 7..

Kenapa ada derita

Bila bahagia tercipta

Kenapa ada sang hitam

Bila putih menyenangkan

Hohohoho…justru di situ kan yang namanya hidup. Hidup itu baru bisa dengan sempurna disebut hidup bila kita merasakan hal-hal yang saling bertolak belakang seperti contoh yang sudah saya tulis di atas. Kita tidak akan tahu bagaimana rasa bahagia itu, atau dengan kata lain tidak akan terasa sebahagia yang seharusnya bila kita tidak pernah merasakan kesedihan. Secara langsung maupun tidak lansung, memori kita akan membandingkan dua perasaan yang bertolak belakang itu. Seperti misalnya, kita pernah makan sesuatu yang tidak enak, begitu kita makan sesuatu yang lebih enak, maka secara otomatis kita bisa bilang bahwa makanan itu enak karena kita pernah merasakan yang lebih tidak enak. Kurang lebih seperti itu.

Yak, imperfect life is the perfect one!

Read more...

I Wanna Grow Old With You

SCM Music Player - seamless music for your Website, Wordpress, Tumblr, Blogger.

About This Blog

blog ini termasuk newbie karena penulisnya memang masih berstatus 'belajar'..tapi, penulis berharap blog ini dapat menjadi media berbagi pengalaman yang memotivasi dan menginspirasi pembaca dan penulisnya sendiri.. tetap semangat semuanya^^

Lorem Ipsum

Click to view my Personality Profile page

  © Blogger templates Romantico by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP